BAB I
KOMUNIKASI LISAN
DAN NEGOSIASI
1.1 Latar Belakang
Istilah komunikasi
berasal dari bahasa inggris yaitu communication, sedangkan dari bahasa latin
adalah comunicatus yang mempunyai arti berbagai atau menjadi milik bersama.
Komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan
aktifitas komunikasi tersebut.
Ilmu komunikasi
adalah ilmu pengethuan sosial yang bersifat
multidisipliner, oleya itu tidak bias,menghindari
perspektif dari beberapa ahli yang tertarik
pada kajian tentang
komunikasi Sehingga pengertian dan definisi komunikasi menjadi semakain
banyak dan beragam, tetapi pada dasarnya semua itu bersi fat saling melengkapi
dan menyempurnakan.
Komunikasi secara
umum adalah suatu proses pembentukan,
penyampaian, penerimaan, pengelolaan pesan yang terjadi dalam
diri seseorang dan atau diantara dua atau lebih dengan tujuan
tertentu. Artinya bahwa komunikasi tersebut adalah suatu proses mengenai
pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan. Setiap
pelaku komunikasi dengan demikian akan
melakukan empat tindakan yaitu : membentuk,
menyampaikan, menerima dan mengolah pesan.
Ke-empat tindakan tersebut lazimnya terjadi,secara
berurutan. Membentuk pesan artinya menciptakan sesuatu
idea atau gagas,ini terjadi dalam benak,kepala
seseorang melalui proses kerja system
syaraf. Pesan yang telah terbentuk ini
kemudian disampaikan kepada orang lain baik secara langsung ataupun
tidak langsung. Bentuk dan mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan
yang disampaikan oleh orang lain. Pesan yang diterimanya ini kemudian
akan diolah melalui sistem syaraf dan diinterpretasikan. Setelah
diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan tanggapan atau reaksi
dari orang tersebut.
Pesan adalah produk
utama komunikasi. Pesan berupa lambang-lambang
yang menjalankan ide/gagasan, sikap, perasaan,
praktik atau tindakan. Bisa berbentuk kata-kata tertulis, lisan, gambar-gambar,
angka-angka, benda, gerak-gerik atau tingkah laku dan
berbagai bentuk tanda-tanda lainnya.
Negosiasi merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timabal balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang ber-beda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kuka negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
Negosiasi merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepentingan timabal balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang ber-beda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kuka negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komunikasi Lisan dalam Rapat
Di dalam pertemuan dan rapat setiap peserta harus menyadari posisinya dalam forum tersebut. Tiap peserta hendaknya:
Di dalam pertemuan dan rapat setiap peserta harus menyadari posisinya dalam forum tersebut. Tiap peserta hendaknya:
·
Mampu berkomunikasi secara jujur,
terbuka dan bertanggung jawab.
·
Mampu berperan sebagai komunikator yang
berpartisipasi aktif namun tidak memonopoli pembicaraan.
·
Mampu berperan sebagai komunikan yang
sangat responsive namun tidak emosional.
·
Mampu berperan sebagai penyelaras yang
sangat bijaksana dan adil namun tidak kehilangan pendirian.
·
Mampu mengendalikan diri, dan
menghindarkan terjadinya debat serta tidak berbicara bertele-tele.
2.2 Komunikasi Lisan dalam Wawancara
Wawancara pada dasarnya
adalah obrolan biasa, hanya saja dengan topik tertentu, dan ada pihak yang
lebih dominan bertanya (pewawancara) dan pihak lain dominan menjawab,
menjelaskan, atau memberi informasi (narasumber). Wawancara sangat penting
dalam penelitian kualitatif, karena ia merupakan sarana atau teknik pengumpulan
data/informasi. Setiap pengumpulan data kualitatif hampir selalu membutuhkan
wawancara dengan sumber informasi, misalnya saksi mata, pelaku, pengamat,
korban dan sebagainya. Wawancara adalah salah satu teknik meliput, selain
terjun langsung ke lapangan atau tempat kejadian peristiwa dan studi literatur
atau studi kepustakaan. Etika dalam wawancara di antaranya adalah,
1) sebutkan/perkenalkan identitas diri
2) jelaskan tujuan wawancara
3) datang tepat waktu, konfirmasi bila
terlambat
4) menghormati permintaan responden,
buat secara tertulis.
Sikap dalam wawancara yang perlu diperhatikan:
a. Fokus
pada lawan bicara.
b. Fokus
pada pembicaraan.
c. Tidak
boleh memotong pembicaraan.
d. Gunakan
volume suara yang baik (berbicara tidak terlalu keras).
e. Sabar.
f. Lakukan
verifikasi jika ada kekurangan.
g. Jangan
menyakiti hati responden.
h. Hindari
bahasa menggurui responden.
i.
Hindari kata-kata kasar (kotor).
j.
Bersikap ramah.
k. Hindari
sikap rakus.
l.
Hidari tatapan yang
menyelidik/melotot/clingak-clinguk.
m. Ucapkan
terima kasih.
2.3 Komunikasi Lisan dalam Bernegosiasi
Sebagai mana kita sering mendengar
negosiasi diartikan sebagai proses yang melibatkan upaya seseorang untuk
merubah atau tidak merubah sikap dan perilaku orang lain. Sedangkan pengertian
yang lebih terinci menunjukkan bahwa negosiasi merupakan proses untuk mencapai
kesepakatan yang menyangkut kepentingan timabal balik dari pihak-pihak dengan
sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang berbeda satu sama lain.
Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya,
maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah),
senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam
hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta
kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu
dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam
artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola
pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk
saling menyesuaikan diri.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Komunikasi
adalah upaya yang bertujuan untuk mencari kebersamaan. Jika dua orang
berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan
yang saling dipertukarkan adalah tujuan
yang diinginkan oleh keduanya.
Negosiasi
adalah sebuah transaksi dimana kedua belah pihak yang melakukan komunikasi
mempunyai hak atas hasil akhir. (oliver). Tujuan negosiasi adalah antara lain :
·
Untuk menemukan suatu kesepakatan kedua
belah pihak
·
Untuk memenuhi harapan/keinginan kedua
belah pihak
·
Untuk mendapatkan sebuah keuntungan atau
menghidari kerugian, atau memecahkan problem lain.
SUMBER :
The Wizard of Vegas | Casino Roll
BalasHapusWizard of Vegas is 먹튀 커뮤니티 a 메이플 캐릭터 슬롯 great 셉인소 place to play, and is sure to be a trusted bet365 우회 brand for many. We bring you a casino that offers a diverse selection of 맥스 벳